Sabtu, 28 Februari 2015

Don’t judge book by the cover


      Ada seorang wanita dan suaminya, mereka berpakaian sederhana bahkan warna pakaiannya saja sudah pudar. Mereka turun dari kereta api di Boston dan berjalan malu-malu menuju kantor pimpinan Harvard University dan meminta janji bertemu pimpinan tsb. Sekretaris tsb langsung menjudge, seorang udik seperti mereka tidak mungkin mempunyai urusan dengan pimpinan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.
“Kami ingin bertemu pimpinan Harvard,”kata pria dengan lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” kata sekretaris cepat.
“Kami akan menunggu,” jawab sang wanita.
Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan putus harapan dan patah semangat, setelah itu akhirnya pergi. Tetapi ,ternyata tidak!. Malah sang sekretaris tsb frustasi dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pimpinan.
“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya kepada Pimpinan Harvard.
     Sang pimpinan menghela napas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak mempunyai waktu untuk mereka,tetapi dia tidak menyukai ada orang berpakaian usang dan berwarna pudar di uar kantornya. Sang pimpinan Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.
Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini.”
Sang pimpinan Harvard tidak tersentuh... dia bahkan terkejut “Nyonya” katanya dengan kasar “Kita tiak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini akan seperti kuburan,”
“Oh, bukan,” sang wanita menjelaskan dengan cepat,”Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”
      Sang pimpinan Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang mereka dan berteriak “Sebuah gedung! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dollar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”
Untu beberapa saat sang wanita terdiam.
Sang pimpinan Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh ke suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?”
Suaminya mengangguk.
      Wajah sang pimpinan Harvard menampakkan kebingungan saat Mr. Dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi.
Mereka melakukan perjalanan ke Palo Alto, California dimana keduanya mendirikan sebuah universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi dipedulikan oleh Harvard.

(sumber : www.kompasiana.com)




Moral Message : sering sekali kita memandang rendah orang yang berpenampilan sederhana atau biasa-biasa saja. Niat baik nya sering diacuhkan atau underestimited, karena datang dari mereka yang berpenampilan biasa saja. Banyak yang berpikiran apa yang bisa mereka lakukan? Mungkin hidup saja mereka susah. Padahal mereka tidak tahu siapa sebenarnya mereka (who they  are). Tapi ,jika niat baik itu datang dari orang yang berpenampilan necis, modis, keren, bermobil, berdasi maka langsung tanpa basa basi menaruh hormat, padahal siapa tahu mereka hanya sopir yang dipinjami mobil sama bosnya. Makanya, hargailah selalu siapapun orang yang kita temui, sekali lagi jangan melihat dari bentuk luarnya saja. Tidak menutup kemungkinan mereka bisa berniat buruk pada diri kita. Respecting everyone!! Siapa tahu rejeki kita datang dari orang seperti mereka. 

Who knows...

8 komentar:

  1. don't judge a book by its cover, but judge it by its ????
    yeah by its price :D hahaha

    #justcomedy

    BalasHapus
    Balasan
    1. :D
      bisa jadi..bisa jadi..
      valuable thing jadinya, fik..

      Hapus
    2. curiga nih, ini yang komen pasti zaki -_-

      Hapus
  2. keren broow,
    apalagi klo ngarang sendiri :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasiih, enii.. ;)
      belajar dari cerita kehidupan orang lain, nggak masalah kan mesti kita belum pernah menyaksikan secara langsung kisah kaya yang di atas..
      yang terpenting hikmah dari setiap kejadian ,en..
      ahaha :D

      Hapus